|
Ditulis oleh +Infanto,Arie
|
|
Sabtu, 05 Desember 2009 16:04 |
|
photograph by: +Infanto-Arie, Wanhar dan Chaidir Mahyuddin. Sudah 2 minggu sejak persiapan panitia pelaksanaan mulai digiatkan, hujan turun terus menerus di Banda Aceh. Kalaupun berhenti, tetap dibumbui gerimis kecil. Namun hujan bukan hambatan melainkan tantangan yang harus dilewati, lihat saja para panitia tetap bekerja. Koordinasi-demi koordinasi dilakukan via email, Yahoo Messenger, Facebook, SMS dan Telepon mengisyaratkan semangat yang tak surut walau kini tak bisa dipungkiri kalau anggota ABC yang berdomisili di Banda Aceh tak sebanyak dulu lagi, namun tekat untuk menunjukkan kalau ABC exist tak surut selangkah pun. Waktu semakin dekat, dan begitu banyak yang harus dipersiapkan. Tak jarang anak-anak ABC bekerja hingga larut malam. Belum lagi siangnya beberapa orang harus mengorbankan “pekerjaan utamanya” hanya untuk mengurusi kepanitiaan. Tujuannya cuma satu; “SUKSES”. Ini adalah kali keduanya kegiatan antara ABC (Atjeh Bicycle Community) dan TDMRC Unsyah (Tsunami and Disaster Mitigation Research) dilaksanakan. Talkshow radio di beberapa tempat berbuah sambutan hangat, bahkan dari daerah dan minta ABC buat kegiatan yang sama didaerah mereka. Sungguh menyentuh. Hujam masih mengguyur Banda Aeeh di hari Sabtu itu, dimana panitia tengah sibuk memasang atribut acara, mempersiapkan dokument, memasang umbul-umbul bahkan hingga larut malam. Namun Tuhan mampu berkata lain, Minggu, hari yang dinanti justru langit bersinar cerah, kekawatiran peserta sunyi karena hujan, di pagi harinya dijawab dengan tawa. Begitu ramai yang ikut mendaftar di tenda panitia. Pak Walikota juga hadir dan asik berbincang-bincang dengan panita dan peserta lainnya. Pukul 08.07, acara dibuka dengan sambutan dari ABC, Ketua Panitia, Rektor UNSYAH dan dilepas oleh Walikota Banda Aceh, pak Mawardi. Peserta dibawa berwisata edukasi, sejarah dan panorama. Melalui pesisir Krueng Aceh, melintas Kampung Jawa dan situs sejarah Kampung Pande lalu menyusuri garis pantai Utara, akhirnya tim singgah di gedung penyelamatan Dayah Baroe. Pemilihan jalur ini merupakan interkoneksi antara konsep bersepeda, wisata dan edukasi untuk memberikan informasi pada masyarakat akan pengetahuan kebencanaan. Sepanjang jalan, peserta dapat melihat rambu siaga bencana, melalui jalurnya hingga akhirnya berlabuh di Gedung penyelamatan. Setelah beristirahat sejenak, peserta dibawa kembali berkeliling hingga berakhir di gedung TDMRC Ulee-Lhee. Sambil mengeringkan keringat yang bercucuran, peserta disuguhi minuman dari salah satu sponsor yang juga donor ABC untuk kegiatan ini. Sebelum kegiatan pembagian hadiah, peserta disuguhi angket tentang kebencanaan, untuk mengetahui sedalam apa pengertian peserta tentang kebencanaan. Setelah riuh rendah kegiatan penarikan undian oleh Panitia pada peserta, akhirnya kegiatan FUN bike tersebut ditutup tepat pukul 11.30 Wib. Setelah berehat sejenak yang diisi dengan makan siang dan sholat Juhur, panitia dan penonton berbondong-bondong menuju sirkuit Peukan Bada, dimana sedari pagi panitia perlombaan telah sibuk mempersiapkan perlombaan. Dari 3 kelas yang diperlombakan akhirnya hanya 2 kelas yang mampu diperlombakan. Hal ini karena kelas junior tidak memenuhi jumlah quota untuk layak diperlombakan. Ahirnya, pertandingan dibuka dengan perlombaan kelas bergengsi; Kelas Man Elite Open, untuk usia 18 tahun keatas. Peserta berasal dari Lhokseumawe, Takengon, Bireuen dan didominasi oleh peserta Banda Aceh. Trek sepanjang kurang lebih 1 Km, di gelar dengan 15 putaran/lap. Sungguh pertarungan yang luar biasa, para peserta berusaha keras melahap trek yang didominasi lumpur, tanah liat dan bebatuan dan saling bersaing ketat. Akhirnya Posisi pertama dan kedua diduduki oleh Fajar dan Juliansyah yang keduanya dari Takengon dan juara ketiga diduduki oleh salah satu peserta dari Belanda (beliau gak ingin namanya dipublikasikan). Duel dramatis juga ditunjukkan dalam pertandingan berikutnya; Kelas Tim Open yang diikuti oleh Tim BRAT dari Banda Aceh, Tim Takengon, Tim ADB dan Tim Bule (Belanda). Sedari awal Tim Takengon memimpin di putaran awal melalui pembalap perrtamanya, lalu disusul oleh tim Bule, ADB dan Tim BRAT. Hingga akhirnya Tim Takengon harus berhenti karena kerusakan pada sepedanya saat pembalap kedua melaju dan harus mendorong sepeda hampir 2Km dalam keadaan sepeda penuh lumpur dan jauh ditnggal peserta yang lain. Tim Bule dan Tim ADB melaju meninggalkan tim BRAT dan Takengon. Namun pada putaran akhir lap di pembalap kedua, tim ADB berhasil dipotong oleh tim BRAT. Dengan Pembalap ketiga, Tim Takengon mengejar ketinggalan demi ketinggalan. Satu persatu dikejar walau telah overlap. Setelah berhasil memotong pembalap ADB, pada putaran akhirnya, tim Takengon berhasil memotong pembalap BRAT dan mengukuhkan diri di posisi kedua. Hingga akhirnya posisi podium menjadi; Juara pertama: Tim Bule (Belanda), Juara Kedua: Tim Takengon dan juara ketiga: Tim BRAT (Banda Aceh). Sungguh minggu itu merupakan minggu terlelah buat teman-teman ABC. Beberapa petikan penting dari kegiatan ini adalah; Kalau kita mau dan bersatu, kita bisa dan mampu. Kebersamaan mengalahkan segalanya. Salam Gowes..... |
|
Publikasi Fun Bike dan lomba Cross Country |
|
|
|
|
Terbaru
|
|
Ditulis oleh Arie Infanto
|
|
Senin, 16 November 2009 21:39 |
 Syarat Pendaftaran sepeda santai/FUN BIKE- Menggunakan sepeda atau variannya
- Diikuti oleh anak dan orang dewasa. Namun untuk anak-anak sebaiknya di atas 12tahun.
- Hadir di Lapangan Blang Padang pada tanggal 22 November 2009 pukul 6.30 wib untuk melakukan daftar ulang dan menerima merchandize
- Disarankan menggunakan minimal standard pengamanan seperti, helm dan tidak menggunakan sandal.
- Sehat fisik dan mental.
Kompetisi CROSS COUNTRY- Mengisi formulir pendaftaran. Formulir pendaftaran dapat diperoleh di tempat-tempat pendaftaran yang disediakan (Gedung TDMRC- Ulee Lhee, Toko sepeda Serikat, Warung Kopi Black and White, Canai Mamak) atau mengontak salah satu kontak person dalam poster dan selebaran.
- Formulir dapat juga dikirimkan via post, email ataupun kurir ke alamat panitia Gedung TDMRC-Unsyiah, Ulee Lhee. Atau ke alamat ABC – Atjeh Bicycle Community Jl. Rawa Sakti Barat X, Meulagu 5 no. 10 Desa Jeulingke, Kec. Syah Kuala, Banda Aceh. Atau mengembalikannya langsung ditempat formulir diperoleh.
- Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 25.000,-
- Hadir pada tanggal 21 November 2009 pukul 15.00 wib di gedung TDMRC untuk technical meeting.
Kelas Yang diperlombakan:- XC Junior; diikuti peserta berumur 12-18 tahun.
- XC Man Elite Open; diikuti oleh peserta dari semua berbagai tingkat usia yang dimulai dari 19 tahun sampai seterusnya.
- XC Tim Open; perlombaan beregu yang terdiri dari 4 regu dalam satu tim.
Kontak PersonUntuk informasi dapat menghubungi: Dede Adam: 081370685711 (
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
) Betsy: 081213883338 (
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
) Ricardo: 081269731787 (
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
) Arie: 081269070420 (
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
) |
|
Terbaru
|
|
Ditulis oleh +Infanto,Arie
|
|
Senin, 25 Mei 2009 15:20 |
|

Hari ini Ulang Tahun kota Banda Aceh, namun anak-anak dari beberapa komunitas tak bisa ikut memeriahkannya karena tak terdaftar dalam peserta, termasuk ABC & BRAT. Namun kebahagiaan bersepeda tidak hanya di acara sepeda santai yang berbau politis-Fun Bike saja. Masing-masing pun jalan dan buat rencana indah. Saya memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman dari BRAT (Bike Rider Adventure Team) yang sedari pagi udah merapat di Nasi Gurih Rasyid depan Mesjid Baiturrahman, Banda Aceh. Sambil sarapan, beberapa teman yang sudah lebih dahulu menyelesaikan kewajibannya itu, menyusun sepeda dalam 2 mobil pengangkut. Yang lainnya sibuk mempersiapkan ransum untuk perjalanan. Tujuan jelajah kali ini adalah Air terjun Kuta Malaka. Tak lama kemudian semua naik bersiap menaiki 2 mobil fan dan 2 truk yang membawa kami menyusuri jalan lintas Medan-Banda Aceh. Berbelok ke jalan lingkungan menuju desa samahani, Indrapuri, Aceh Besar. Saat aspal berakhir, kamipun bersiap turun dan mulai mepersiapkan segala sesuatunya termasuk setting peralatan dan sepeda. Start yang indah, disuguhi guyuran-guyuran air. Membelah setidaknya 4 anak sungai yang memberikan kesegaran di panas terik itu. Bukit indah hijau disekitar seolah menghantar perjalanan panjang, mendaki, melelahkan dan memancing emosi. Emosi karena Dedy berkali-kali diceplokin telur oleh Bang Rudi. Ulang tahun sih...! Bahkan ada satu lemparan maut saat Dedy mencoba melarikan diri telak mendarat di kepalanya dan harus segera dibersihkan di sungai terdekat. Perjalanan dilanjutkan, jalan semakin terjal dan licin karena kerikil dan tanah liat kering. Berdebu. Itu semua terbayar saat memasuki hutan berpohon rapat dan suara air terjun. Betapa riangnya anak2 mandi dibawah guyuran air terjun. Setelah puas mandi, buah kerja keras menanjak dibayar dengan downhill panjang, tajam dan berdebu. Tidak sedikit yang terguling-guling dan terluka. Dibuka dengan Fadhil yang terguling saat mencoba turun dari bukit, dilanjutkan dengan Chaidir dan Rudi berguling-guling di trek tapal kuda. Dedi yang hampir masuk jurang terjal karena terlalu kencang dan keterusan. Ada bang Buyung yang memang haram tidak ngebut di turunan. Dihadiahi 5 jahitan di tangan dan kaki tak membuatnya berhenti. Disusul, Rey yang masuk ke semak-semak, sampai Olex yang jadi biang kerok tabrakan beruntun Lisa-Olex-Eko di sungai. Menjelang finish kembali lagi bang Buyung tersungkur dan terkapar disungai. Kesenangan ini di tutup dengan makan bersama di Black & White Cafe banda aceh dalam suasana kekeluargaan dan canda yang jauh lebih “Fun”. Akhirnya saya menemukan “real Fun-Bike” dihari itu. |
|
Artikel
|
|
Ditulis oleh Ali
|
|
Senin, 27 April 2009 17:50 |
Mau cerita sedikit tentang Aceh
Ketika saya pertama kali bekerja di Banda Aceh, tahun 2003, yang memakai sepeda hanya bapak-bapak tua yang membawa belanjaan ke pasar atau membawa ilalang untuk makanan ternak. Ada juga anak-anak sekolah. Setelah tsunami, cukup banyak pendatang yang bekerja di lembaga pembangunan dan rehabilitasi yang bersepeda ke kantor atau sekedar menikmati pantai dan bukit. Orang Aceh lebih suka membeli motor baru dan seringkali bertanya bingung mengapa orang-orang pendatang ini suka bersepeda walau jauh lebih mampu membeli kendaraan. Ketika Atjeh Bicycle Community (ABC) -yang kemudian menjadi chapter B2W Aceh - dibentuk tahun 2005, hanya 1-2 orang Aceh yang bergabung. Warga pendatang, karena jauh dari keluarga, tidak memiliki banyak pilihan kegiatan di Banda Aceh, dan merasa lebih praktis membeli sepeda daripada kendaraan bermotor, semakin banyak yang bergabung. Selain di Banda Aceh, para pendatang yang bekerja di kota-kota lain juga membuat kelompok-kelompok ABC lokal (di Sigli, Lhoksumawe, Bireun). Kelompok ini gencar mempromosikan kegiatan bersepeda serta bike to work. Jika ada anggota ABC yang ke Jakarta atau medan, mereka menawarkan kepada teman-temannya yang belum bersepeda untuk dibawakan/dibelikan sepeda rakitan yang bagus dari Jakarta atau Medan. Teman-teman yang belum bersepeda diracuni, diajak keliling kota, menyusuri pedesaan atau ke bukit dengan dipinjami sepeda. Cewek-cewek cantik mengajak pemuda-pemuda untuk bersepeda, pemuda tampan manjadi umpan untuk mengajak gadis-gadis bersepeda. Bike to Work Day dirayakan rutin, event-event pameran diikuti, kelompok-kelompok tertentu (mahasiswa, pelajar) didekati. Setelah 2-3 tahun baru tampak hasilnya. Sekarang semakin banyak warga Banda Aceh dan daerah-daerah lain yang bersepeda. Anggota milis ABC yang terdarftar di milis sekarang ada lebih dari 300 orang. Anggota kelompok vespa, jeep offroad, mulai beralih ke sepeda. Toko sepeda paling terkenal di Banda Aceh, toko Serikat, yang dulu kesulitan menjual group set (tanya penduduk setempat, "kok harga perlengkapan sepeda lebih mahal dari sepedanya??") sekarang sudah menjadi dealer polygon dan menyediakan berbagai group set mutakhir. Kelompok dan club sepeda menjamur. Semakin banyak mahasiswa dan pelajar di kota Banda Aceh yang bersepeda dan memakai tag Bike to Campus atau Bike to School. Pejabat senior pemerintah,yang ketika kecil dan muda bersepeda, membersihkanb dan memakai kembali sepeda tua mereka (gazelle, raleigh, dll). Warung Canai (roti cane) dan teh tarik yang menjadi tempat favorit untuk berkumpul anggota-anggota awal ABC sekarang semakin besar dan rutin dipenuhi pencinta sepeda, dan tempat parkir sepeda untuk umum yang pertama di Banda Aceh dibangun di tempat itu oleh pemilik warung. Gubernur bahkan meminta pegawai negeri bersepeda di hari jumat dan sabtu. Jalanan Banda Aceh yang dulu asing dengan pekerja yang bersepeda ke kantor mereka sekarang ramai oleh sepeda-sepeda terbaru dan tercanggih. Bagaimana dengan para pendatang yang sekarang kembali ke daerah asalnya seiring dengan menipisnya pekerjaan di Aceh? Mereka yang dulunya asing dengan sepeda mendapat kesempatan untuk menikmati bersepeda di kota banda aceh yang kecil dan tingkat polusinya relatif tidak separah kota-kota besar. Kebiasaan tersebut dibawa ketika mereka kembali ke kota asal mereka. Kota Banda Aceh kecil (dari ujung ke ujung tidak lebih dari 10 km), memiliki jalan datar dan tersedia banyak pilihan lain bagi yang ingin menikmat sepeda (perbukitan dan pedesaan tinggal belok dan gowes sedikit "keluar" kota). Semua mendorong kegiatan bersepeda. Bukan tidak mungkin Banda Aceh akan segera terkenal sebagai kota sepeda di Indonesia, dimana penduduknya melakukan kegiatan dan menuju tempat kegiatan (kantor, kampus, sekolah, pasar) dengan sepeda. Semoga kota-kota di Bali juga bisa dikenal sebagai kota sepeda. Salam gowes, Ali |
|
Ditulis oleh Dedy Istanto
|
|
Rabu, 18 Februari 2009 18:54 |
|
Berbagi cerita perjalanan Jakarta – Bandung 08 – 10 February 2009.  “Seperti apa yang telah di SMS kan oleh rekan Awal….berbagi cerita perjalanan kepada rekan – rekan yang lain, semoga ini bisa menambah semangat untuk kita selalu berbagi. Perjalanan bersepeda tidak melulu selalu membuat susah untuk kita menjalankannya. Seperti kata rekan Ali “ secara fisik memang itu pasti lelah, caupe, namun secara Iman itu belum tentu “ sedikit tersenyum walau ini hanya sekedar gurauan, toh akhirnya perjalanan Jakarta ke Bandung tetap dijalankan. Sedikit ragu dan tak mampu dengan ajakan Ali menempuh perjalanan Jakarta – Bandung dengan bersepeda mungkin perlu dipertimbangkan dengan baik. Baru sehari bertemu di Margonda, Depok dengan Ali entah mengapa yang pertama terencana langsung mengajak jalan ke Bandung dengan bersepeda. Ah…ini pasti hanya biasa, sampai akhirnya memang menjadi sebuah perencanaan serius. Ini bukan pertama kalinya rekan Ali bersepeda dengan jarak jauh, sebelum berangkat ke Sudan, Afrika doi juga pernah melakoni perjalanan solo nya Jakarta – Puncak, Cipanas…edah euy….tapi itulah Ali Berlanjut hari berikutnya ternyata apa yang telah direncanakan untuk melakukan perjalanan terus dibicarakan, sampai akhirnya membuahkan keputusan bahwa hari Senin, tanggal 08 – February 2009 nanti kita akan berangkat. Walaupun secara fisik menolak, tapi ada benarnya juga iman terus menghantui, apa daya ini merupakan sebuah pengalaman perjalananan, tak ada salahnya untuk dicoba. Sepakat! Kita berangkat………… |
|
Selanjutnya...
|
|
|