|
Terbaru
|
|
Ditulis oleh +Infanto,Arie
|
|
Senin, 25 Mei 2009 15:20 |
|

Hari ini Ulang Tahun kota Banda Aceh, namun anak-anak dari beberapa komunitas tak bisa ikut memeriahkannya karena tak terdaftar dalam peserta, termasuk ABC & BRAT. Namun kebahagiaan bersepeda tidak hanya di acara sepeda santai yang berbau politis-Fun Bike saja. Masing-masing pun jalan dan buat rencana indah. Saya memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman dari BRAT (Bike Rider Adventure Team) yang sedari pagi udah merapat di Nasi Gurih Rasyid depan Mesjid Baiturrahman, Banda Aceh. Sambil sarapan, beberapa teman yang sudah lebih dahulu menyelesaikan kewajibannya itu, menyusun sepeda dalam 2 mobil pengangkut. Yang lainnya sibuk mempersiapkan ransum untuk perjalanan. Tujuan jelajah kali ini adalah Air terjun Kuta Malaka. Tak lama kemudian semua naik bersiap menaiki 2 mobil fan dan 2 truk yang membawa kami menyusuri jalan lintas Medan-Banda Aceh. Berbelok ke jalan lingkungan menuju desa samahani, Indrapuri, Aceh Besar. Saat aspal berakhir, kamipun bersiap turun dan mulai mepersiapkan segala sesuatunya termasuk setting peralatan dan sepeda. Start yang indah, disuguhi guyuran-guyuran air. Membelah setidaknya 4 anak sungai yang memberikan kesegaran di panas terik itu. Bukit indah hijau disekitar seolah menghantar perjalanan panjang, mendaki, melelahkan dan memancing emosi. Emosi karena Dedy berkali-kali diceplokin telur oleh Bang Rudi. Ulang tahun sih...! Bahkan ada satu lemparan maut saat Dedy mencoba melarikan diri telak mendarat di kepalanya dan harus segera dibersihkan di sungai terdekat. Perjalanan dilanjutkan, jalan semakin terjal dan licin karena kerikil dan tanah liat kering. Berdebu. Itu semua terbayar saat memasuki hutan berpohon rapat dan suara air terjun. Betapa riangnya anak2 mandi dibawah guyuran air terjun. Setelah puas mandi, buah kerja keras menanjak dibayar dengan downhill panjang, tajam dan berdebu. Tidak sedikit yang terguling-guling dan terluka. Dibuka dengan Fadhil yang terguling saat mencoba turun dari bukit, dilanjutkan dengan Chaidir dan Rudi berguling-guling di trek tapal kuda. Dedi yang hampir masuk jurang terjal karena terlalu kencang dan keterusan. Ada bang Buyung yang memang haram tidak ngebut di turunan. Dihadiahi 5 jahitan di tangan dan kaki tak membuatnya berhenti. Disusul, Rey yang masuk ke semak-semak, sampai Olex yang jadi biang kerok tabrakan beruntun Lisa-Olex-Eko di sungai. Menjelang finish kembali lagi bang Buyung tersungkur dan terkapar disungai. Kesenangan ini di tutup dengan makan bersama di Black & White Cafe banda aceh dalam suasana kekeluargaan dan canda yang jauh lebih “Fun”. Akhirnya saya menemukan “real Fun-Bike” dihari itu. |
|
Artikel
|
|
Ditulis oleh Ali
|
|
Senin, 27 April 2009 17:50 |
Mau cerita sedikit tentang Aceh
Ketika saya pertama kali bekerja di Banda Aceh, tahun 2003, yang memakai sepeda hanya bapak-bapak tua yang membawa belanjaan ke pasar atau membawa ilalang untuk makanan ternak. Ada juga anak-anak sekolah. Setelah tsunami, cukup banyak pendatang yang bekerja di lembaga pembangunan dan rehabilitasi yang bersepeda ke kantor atau sekedar menikmati pantai dan bukit. Orang Aceh lebih suka membeli motor baru dan seringkali bertanya bingung mengapa orang-orang pendatang ini suka bersepeda walau jauh lebih mampu membeli kendaraan. Ketika Atjeh Bicycle Community (ABC) -yang kemudian menjadi chapter B2W Aceh - dibentuk tahun 2005, hanya 1-2 orang Aceh yang bergabung. Warga pendatang, karena jauh dari keluarga, tidak memiliki banyak pilihan kegiatan di Banda Aceh, dan merasa lebih praktis membeli sepeda daripada kendaraan bermotor, semakin banyak yang bergabung. Selain di Banda Aceh, para pendatang yang bekerja di kota-kota lain juga membuat kelompok-kelompok ABC lokal (di Sigli, Lhoksumawe, Bireun). Kelompok ini gencar mempromosikan kegiatan bersepeda serta bike to work. Jika ada anggota ABC yang ke Jakarta atau medan, mereka menawarkan kepada teman-temannya yang belum bersepeda untuk dibawakan/dibelikan sepeda rakitan yang bagus dari Jakarta atau Medan. Teman-teman yang belum bersepeda diracuni, diajak keliling kota, menyusuri pedesaan atau ke bukit dengan dipinjami sepeda. Cewek-cewek cantik mengajak pemuda-pemuda untuk bersepeda, pemuda tampan manjadi umpan untuk mengajak gadis-gadis bersepeda. Bike to Work Day dirayakan rutin, event-event pameran diikuti, kelompok-kelompok tertentu (mahasiswa, pelajar) didekati. Setelah 2-3 tahun baru tampak hasilnya. Sekarang semakin banyak warga Banda Aceh dan daerah-daerah lain yang bersepeda. Anggota milis ABC yang terdarftar di milis sekarang ada lebih dari 300 orang. Anggota kelompok vespa, jeep offroad, mulai beralih ke sepeda. Toko sepeda paling terkenal di Banda Aceh, toko Serikat, yang dulu kesulitan menjual group set (tanya penduduk setempat, "kok harga perlengkapan sepeda lebih mahal dari sepedanya??") sekarang sudah menjadi dealer polygon dan menyediakan berbagai group set mutakhir. Kelompok dan club sepeda menjamur. Semakin banyak mahasiswa dan pelajar di kota Banda Aceh yang bersepeda dan memakai tag Bike to Campus atau Bike to School. Pejabat senior pemerintah,yang ketika kecil dan muda bersepeda, membersihkanb dan memakai kembali sepeda tua mereka (gazelle, raleigh, dll). Warung Canai (roti cane) dan teh tarik yang menjadi tempat favorit untuk berkumpul anggota-anggota awal ABC sekarang semakin besar dan rutin dipenuhi pencinta sepeda, dan tempat parkir sepeda untuk umum yang pertama di Banda Aceh dibangun di tempat itu oleh pemilik warung. Gubernur bahkan meminta pegawai negeri bersepeda di hari jumat dan sabtu. Jalanan Banda Aceh yang dulu asing dengan pekerja yang bersepeda ke kantor mereka sekarang ramai oleh sepeda-sepeda terbaru dan tercanggih. Bagaimana dengan para pendatang yang sekarang kembali ke daerah asalnya seiring dengan menipisnya pekerjaan di Aceh? Mereka yang dulunya asing dengan sepeda mendapat kesempatan untuk menikmati bersepeda di kota banda aceh yang kecil dan tingkat polusinya relatif tidak separah kota-kota besar. Kebiasaan tersebut dibawa ketika mereka kembali ke kota asal mereka. Kota Banda Aceh kecil (dari ujung ke ujung tidak lebih dari 10 km), memiliki jalan datar dan tersedia banyak pilihan lain bagi yang ingin menikmat sepeda (perbukitan dan pedesaan tinggal belok dan gowes sedikit "keluar" kota). Semua mendorong kegiatan bersepeda. Bukan tidak mungkin Banda Aceh akan segera terkenal sebagai kota sepeda di Indonesia, dimana penduduknya melakukan kegiatan dan menuju tempat kegiatan (kantor, kampus, sekolah, pasar) dengan sepeda. Semoga kota-kota di Bali juga bisa dikenal sebagai kota sepeda. Salam gowes, Ali |
|
Ditulis oleh Dedy Istanto
|
|
Rabu, 18 Februari 2009 18:54 |
|
Berbagi cerita perjalanan Jakarta – Bandung 08 – 10 February 2009.  “Seperti apa yang telah di SMS kan oleh rekan Awal….berbagi cerita perjalanan kepada rekan – rekan yang lain, semoga ini bisa menambah semangat untuk kita selalu berbagi. Perjalanan bersepeda tidak melulu selalu membuat susah untuk kita menjalankannya. Seperti kata rekan Ali “ secara fisik memang itu pasti lelah, caupe, namun secara Iman itu belum tentu “ sedikit tersenyum walau ini hanya sekedar gurauan, toh akhirnya perjalanan Jakarta ke Bandung tetap dijalankan. Sedikit ragu dan tak mampu dengan ajakan Ali menempuh perjalanan Jakarta – Bandung dengan bersepeda mungkin perlu dipertimbangkan dengan baik. Baru sehari bertemu di Margonda, Depok dengan Ali entah mengapa yang pertama terencana langsung mengajak jalan ke Bandung dengan bersepeda. Ah…ini pasti hanya biasa, sampai akhirnya memang menjadi sebuah perencanaan serius. Ini bukan pertama kalinya rekan Ali bersepeda dengan jarak jauh, sebelum berangkat ke Sudan, Afrika doi juga pernah melakoni perjalanan solo nya Jakarta – Puncak, Cipanas…edah euy….tapi itulah Ali Berlanjut hari berikutnya ternyata apa yang telah direncanakan untuk melakukan perjalanan terus dibicarakan, sampai akhirnya membuahkan keputusan bahwa hari Senin, tanggal 08 – February 2009 nanti kita akan berangkat. Walaupun secara fisik menolak, tapi ada benarnya juga iman terus menghantui, apa daya ini merupakan sebuah pengalaman perjalananan, tak ada salahnya untuk dicoba. Sepakat! Kita berangkat………… |
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Dedy Istanto
|
|
Rabu, 18 Februari 2009 17:47 |
|

Cerita punya cerita kenapa Pulau ini dinamakan Pulau Nasi ternyata cukup sederhana. Konon pada saat waktu berlayar dari Pulau menuju daratan Banda Aceh ataupun sebaliknya, dengan berbekal sebungkus nasi masih bisa dapat dimakan atau tidak basi sampai tujuan. Sederhana namun logis, kenapa akhirnya pulau ini disebut Pulau Nasi. Pulau yang terletak di ujung barat Nanggroe Aceh Darusallam ini merupakan salah satu pulau yang berada diluar daratan Pulau Sumatera. Bila dilihat dalam peta secara geografis letaknya bisa dikatakan berada diujung daratan Sumatera. Pulau yang secara Administratif masuk kedalam struktur wilayah Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar ini merupakan salah satu pulau huni atau pemukiman yang terbagi menjadi 5 Desa yaitu Desa Deudap, Alue Reuyeung, Pasi Janeng, Lamting, dan Rabo. Dengan kondisinya yang berada tidak jauh dari daratan Banda Aceh, maka pulau ini cukup menarik untuk bisa dikunjungi. |
|
Selanjutnya...
|
|
Lhokseumawe, Lost My Way! |
|
|
|
|
Ditulis oleh susachACHMATsich
|
|
Senin, 16 Februari 2009 12:05 |
|
Lost My Way! Itu yang keluar dari mulut kami setelah beberapa saat diam dan membatin. Kalimat ini mengingatkan kami pada cerita lawak lawak asal mula kota Lhokseumawe. Konon kabarnya, dahulu kala ada seorang pengembara yang tersesat di daerah ini. Oleh karenanya dia menamakan kota ini menjadi Lost My Way, sekarang kita kenal dengan Lhokseumawe. Terlepas dari benar tidaknya legenda itu, kami mempunyai cerita menarik lain tentang Lhokseumawe. Berikut laporan perjalanan komunitas pesepeda LUPUS (Lhokseumawe Punya Sepeda), pada tanggal 7-8 Februari 2009 . |
|
Selanjutnya...
|
|
|