Home Berita Lhokseumawe, Lost My Way!

ABC Login

Online

Tidak Ada

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday175
mod_vvisit_counterYesterday177
mod_vvisit_counterThis week1390
mod_vvisit_counterThis month855
mod_vvisit_counterAll107075
Lhokseumawe, Lost My Way! PDF Cetak
Ditulis oleh susachACHMATsich   

 

Lost My Way! Itu yang keluar dari mulut kami setelah beberapa saat diam dan membatin. Kalimat ini mengingatkan kami pada cerita lawak lawak asal mula kota Lhokseumawe. Konon kabarnya, dahulu kala ada seorang pengembara yang tersesat di daerah ini. Oleh karenanya dia menamakan kota ini menjadi Lost My Way, sekarang kita kenal dengan Lhokseumawe. Terlepas dari benar tidaknya legenda itu, kami mempunyai cerita menarik lain tentang Lhokseumawe. Berikut laporan perjalanan komunitas pesepeda LUPUS (Lhokseumawe Punya Sepeda), pada tanggal 7-8 Februari 2009 . 

Berbekal sebuah keyakinan dan logika, kami memberanikan diri menyusuri jalan setapak di samping Makam Militer Lhokseumawe. Kami meyakini, pasti ada jalan yang menghubungkan antara bukit yang satu dengan bukit lainnya. Bukit bukit itu terletak persis di depan sebuah perusahaan raksasa dari Amerika, atau yang lebih kita kenal dengan nama PT. ARUN, Lhokseumawe. 

Logikanya sederhana, dimana ada tower disana ada jalan. Paling tidak, pasti dibuat jalan dulu, baru dibangun tower. Kalau tidak, bagaimana mungkin tiang tiang raksasa itu bisa berdiri tegak di atas bukit sana. Tidak mungkin dipikul. Tidak mungkin pula  mengharapkan bantuan superman tiba. Logika inilah yang membangkitkan gairah kami untuk menaklukkan bukit bukit gundul yang terletak di samping di jalan lintas propinsi Lhokseumawe – Banda Aceh. 

Siang itu panas sekali. Entah apa yang menyebabkan bukit bukit gundul dan gersang. Sejauh mata memandang, hanya rumput dan ilalang, tak ada pohon rindang. Tapi.. segala puji bagi Tuhan ternyata ada gua kecil di pinggang bukit. Kami bergegas masuk, berteduh, mengatur nafas dan mencari tau sejarah gua itu. 

 Ternyata gua itu buatan manusia, bukan ciptaan Tuhan melalui tangan alam. Lantas, apa kami urungkan saja ucapan terima kasih kepada Tuhan tadi? Aku rasa tidak perlu. Kami rubah saja niatnya. Kami tetap berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan melihat dan gua itu. Selanjutnya, kami mencoba menduga duga asal muasalnya. Ada beberapa hipotesa, Pertama: gua itu dibuat oleh GAM sebagai tempat persembunyian dan peristirahatan di masa konflik. Kedua: gua itu dibuat oleh TNI sebagai pos penjagaan dan pengintaian setiap gerakan mencurigakan. Ketiga: gua itu dibuat oleh para pekerja proyek pembangunan sejumlah tower yang ada dipuncak bukit itu. Kalau begitu, tak ada salahnya juga berterima kasih kepada ketiga golongan  yang kami duga sebagai pembuat gua itu. 

Beberapa kali kami tersesat. Jalannya buntu dan berakhir di kebun masyarakat. Umumnya masyarakat berkebun di darah lembah. Daerah lembah jadi kelihatan lebih hijau dibanding bukitnya. Tapi beberapa bukit sudah mulai ditanami dengan ubi kayu dan kacang kacangan. Mungkin karena kurangnya ketersediaan air, sehingga petani kesulitan mengembangkan pertanian di atas bukit. Atau barangkali memang tanahnya yang tidak cocok untuk bercocok tanam. Apapun itu, yang jelas bukit bukit ini harus kami taklukkan.

Petualangan kami mulai membuahkan hasil. Satu per satu kami menemukan tanjakan seram dan turunan curam. Jalan setapak (single track) dengan ilalang setinggi sepeda. Bonus turunan yang penuh lubang tangga untuk pijakan para petani kebun. Naluri masa kecil tiba tiba kembali membesar. Tanpa rasa takut, tanpa pikir panjang, dengan penuh kegirangan merasakan nikmatnya bersepeda. Sekali dua, ada juga yang terjatuh. Tapi justru malah membuat suasana menjadi tambah riang. Semua bergembira. Bahkan tak kenal lelah turun naik bukit hanya untuk sebuah pemotretan. Benar benar menyenangkan.